NADIKABAR.COM — Kebiasaan menerima validasi instan di media sosial berisiko memicu perilaku merasa berhak atau selalu menuntut perlakuan istimewa (entitlement) yang dapat terbawa ke dalam interaksi kehidupan nyata, demikian diungkapkan Guru Besar Psikologi Swansea University, Phil Reed Ph.D.

Dikutip dari tulisannya di Psychology Today, Minggu (20/9) waktu setempat, Reed memaparkan bahwa fitur-fitur dasar media sosial seperti tombol suka (like), komentar, jumlah penonton, hingga pengikut, memberikan respons kilat yang memicu kepuasan instan (instant gratification).

Arus umpan balik yang konsisten tersebut menciptakan sistem ganjaran sosial yang sangat kuat di otak. Dalam sejumlah riset neurosains, stimulasi penghargaan digital tersebut bahkan dapat memicu reaksi saraf yang lebih kuat dibandingkan ganjaran berupa materi atau uang.

Menurut Reed, validasi daring ini kerap menjadi penguat emosional yang dominan, terutama bagi individu dengan ciri kepribadian narsistik yang haus akan pengakuan sosial.