Hal tersebut yang menyebabkan Perseroan masih mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp338,7 miliar, namun angka ini telah menyusut 7,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kemudian setelah selisih kurs penjabaran, rugi komprehensif menyusut 27,8 persen menjadi Rp221,4 miliar.
"Capaian hingga kuartal III/2026 menunjukkan bahwa integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional yang kami jalankan selama dua tahun terakhir berada di jalur yang tepat," ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai mitra strategis bagi sejumlah perusahaan farmasi terkemuka, PYFA juga terus memperluas portofolio produk berlisensi untuk menjawab kebutuhan terapi penyakit dengan beban kesehatan nasional terbesar.
Pada September 2026, Perseroan resmi mengantongi Persetujuan Izin Edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI untuk produk Fenofibrate 145 mg, yang difokuskan pada penanganan gangguan lipid dan pencegahan masalah kardiovaskular.
Kehadiran produk ini melengkapi portofolio Perseroan pada area terapi kardiovaskular, yang berdasarkan data BPJS Kesehatan (periode: Januari sampai September 2026) mencatatkan pembiayaan penyakit jantung sebesar Rp17,35 triliun dan stroke sebesar Rp7,21 triliun. Kontribusi produk ini akan mulai terlihat pada periode berikutnya seiring berjalannya distribusi.