Sementara itu, Ketua Pelaksana ICF 2026 Opa Ewin mengatakan Bali memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan produk cerutu Indonesia kepada pasar internasional karena tingginya kunjungan wisatawan mancanegara.

“Kami melihat peluang Bali ini bagus karena pariwisatanya high class. Dari Bali, produk Indonesia memiliki peluang untuk dikenal lebih luas,” ujarnya.

Menurut Opa Ewin, industri cerutu juga memiliki kontribusi terhadap penerimaan negara melalui cukai. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri tembakau dan cerutu memiliki ekosistem ekonomi yang luas, mulai dari petani hingga produsen dan pasar.

Bagi PTPN I, ICF 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menguji respons pasar terhadap produk cerutu yang dikembangkan perusahaan. Bali menjadi titik temu antara kekayaan tembakau Indonesia, produk hilir perkebunan, dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Melalui momentum tersebut, PTPN I berupaya membawa cerutu sebagai produk hilir perkebunan Indonesia yang tidak berhenti pada pasar domestik. Dari Bali, perusahaan melihat peluang untuk memperluas pengenalan Deli Nusantara dan Golden Djawa sekaligus membuka jalan bagi produk cerutu Indonesia memasuki pasar yang lebih luas.