ICC pada 2024 menyatakan terdapat dasar yang masuk akal untuk meyakini Netanyahu bertanggung jawab atas kejahatan perang dalam operasi Israel di Gaza. Netanyahu membantah tuduhan tersebut.

Netanyahu juga melontarkan kritik terhadap Inggris dan Prancis yang selama ini merupakan mitra Israel, tetapi belakangan semakin terbuka mengkritik kebijakan pemerintah Israel.

Inggris dan Prancis diketahui telah memberlakukan sejumlah sanksi terbatas terhadap ekspor Israel dari wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Netanyahu menyinggung sejarah kolonial kedua negara saat membalas tuduhan bahwa Israel menjalankan kolonialisme.

"Mereka menuduh Israel, Israel yang kecil, melakukan kolonialisme. Dan siapa yang menuduh kami? Di antara mereka adalah orang-orang di Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, mereka yang menciptakan istilah itu," kata Netanyahu.

Hubungan Netanyahu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga telah lama menegang. Macron sebelumnya mendorong negara-negara Barat untuk mengakui Palestina sebagai negara dalam sidang Majelis Umum PBB tahun lalu.

Macron juga mengkritik kondisi di Gaza dan Tepi Barat dalam pidatonya di PBB tahun ini.

Delegasi dari hampir 70 negara walk out saat Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berpidato di Sidang Majelis Umum PBB. Para delegasi membiarkan kursi mereka kosong sebagai bentuk protes terhadap genosida Israel di Gaza dan serangan di kawasan tersebut.

Dilansir Anadolu Agency, Jumat (25/9/2026), berdasarkan rekaman dari Sidang Majelis Umum PBB ke-81 menunjukkan puluhan delegasi meninggalkan ruangan secara bersamaan setelah Netanyahu mendekati podium. Beberapa negara menyisakan satu perwakilan atau diplomat junior, sementara negara lainnya sama sekali tidak menghadiri pidato tersebut.