NADIKABAR.COM β€” PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan bahwa ketersediaan dan keterjangkauan pupuk menjadi harga mati, di tengah upaya transisi energi yang dilakukan.

β€œTransisi energi yang kami lakukan itu bertahap dan terukur,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) Yehezkiel Adiperwira, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Menurut Yehezkiel, pupuk merupakan faktor signifikan dalam pemenuhan pangan nasional, utamanya dalam mencapai swasembada pangan yang ditargetkan oleh pemerintah.

β€œKita memastikan bahwa operasional dari seluruh pabrik kita, baik itu pabrik pupuk urea, pupuk NPK, dan pupuk lainnya, tetap kita jaga keandalannya,” ujar Yehezkiel.

Di tahun 2050 diperkirakan total emisi business as usual atau dalam kondisi normal tanpa adanya intervensi, bisa mencapai 25 juta ton CO2eq. Namun, peta jalan PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan di tahun 2050 penurunan emisi menyentuh angka 96 persen atau hanya sekitar 1,7 juta ton CO2eq.

Guna mencapai target tersebut, Yehezkiel menyampaikan ada strategi yang dijalankan PT Pupuk Indonesia (Persero) baik dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

β€œTarget penurunan konsumsi energi jangka pendek itu memang terkait dengan efisiensi energi melalui revitalisasi pabrik, kemudian menurunkan konsumsi gas per ton produk,” kata Yehezkiel.

Adapun strategi jangka menengah dan jangka panjang yang dilakukan ialah pengembangan blue ammonia dan green ammonia yang berbasis energi terbarukan, pengaplikasian carbon capture utilization and storage (CCUS), serta pendekatan solusi berbasis alam atau nature-based solutions (NBS).

β€œKami juga menggandeng kemitraan strategis dengan beberapa perusahaan yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk pengembangan teknologi rendah karbon itu,” kata Yehezkiel.

Di tahun 2025, penurunan emisi gas rumah kaca cakupan 1 dan cakupan 2 yang dibukukan oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) sebesar 17,47 persen setara dengan 2,25 juta ton CO2eq jika dibandingkan skenario business as usual,

Artinya, dalam kondisi normal tanpa adanya intervensi atau business as usual, emisi yang dihasilkan di tahun tersebut mencapai 12,90 juta ton CO2eq. Angka tersebut berhasil ditekan, sehingga total realisasi emisi aktual cakupan 1 dan cakupan 2 di tahun 2025 sebesar 10,64 juta ton CO2eq.