Menurut dia, selain membutuhkan impor pupuk dalam waktu cepat, Angola juga sedang membangun industri pupuk lokal secara mandiri.
"Kami datang untuk melihat langsung kualitas produk dan teknologi yang dimiliki Pupuk Kujang. Angola memang punya cadangan gas alam, fosfat, dan kalium. Namun kami belum memiliki fasilitas produksi Urea mandiri. Oleh karena itu, kami ingin belajar dari pengalaman Indonesia sekaligus mengeksplorasi peluang investasi dengan perusahaan Indonesia," katanya.
Almeida menyebutkan kalau negaranya bisa menjadi akses masuknya barang Indonesia ke Afrika, sebab negara itu dikenal sebagai koridor logistik penting. Negara Angola berbatasan langsung dengan wilayah Afrika Selatan dan Afrika Tengah.
"Posisi kami strategis. Punya jaringan logistik terintegrasi, termasuk Pelabuhan Lobito dan akses kereta api langsung ke Zambia, menjadikan Angola sebagai jalur distribusi potensial untuk menjangkau pasar lebih dari 300 juta konsumen di kawasan tersebut," kata Almeida.