Lebih lanjut, Rita menjelaskan kondisi atmosfer, seperti perbedaan temperatur, arah, dan kecepatan angin, dapat memengaruhi perambatan suara. Meski begitu, menurutnya, diperlukan penjelasan lebih lanjut dari institusi terkait bidang cuaca.

"Dengan mempertimbangkan kejadian Anak Krakatau tahun 2020 dan erupsi Kelud 2014, jadi kami sekali lagi ini menduga memang kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau ini sebagai salah satu kemungkinan sumber suara dentuman di beberapa wilayah di Jawa Barat pada 4-5 September 2026," paparnya.

"Nah ini kalau kalau di literatur disebutkan bahwa perbedaan temperatur setara dan kecepatan angin memang bisa menyebabkan itu ya, tapi ini mungkin ranahnya yang untuk cuaca ini bisa dijelaskan atau bisa dibaca lebih lanjut dari institusi terkait ya," imbuh dia.

Dalam akun Threads Badan Geologi, juga menjelaskan alasan dentuman Gunung Anak Krakatau bisa terdengar di Bandung. Badan Geologi mengungkap ada dua alasan.

"Kenapa dentuman dari Krakatau bisa terdengar di Bandung? Bisa disebabkan oleh pertama, eskpansi cepat pelepasan gas. Kedua, Gesekan dan turbulensi aliran lava dengan kecepatan tinggi pada konduit (lubang kepundan)," tulis Badan Geologi.