NADIKABAR.COM — Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad mengatakan Generasi Berencana (Genre) harus bisa menjadi teladan melawan hoaks di dunia digital.

"Kalau dulu nenek moyang kita berperang melawan penjajah, adik-adik, kita sekarang harus bisa berperang melawan hoaks di dunia digital. Adik-adik semua harus belajar dan memahami, cek dulu (kebenaran informasi), jangan mudah terprovokasi dan saling bergunjing," katanya dalam puncak Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Genre Nasional (Adujaknas) 2026 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Selasa.

Ia menekankan pentingnya peran teman sebaya dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) bagi teman-teman di sekitarnya, yang tentu lebih nyaman berbagi dan berdiskusi bersama, ketika remaja merasa sulit bercerita kepada orang tua atau keluarganya.

"Di Instagram, Twitter atau media sosial lainnya, jangan provokatif. Kalau ada hal-hal yang tidak berkenan, bercerita lah dan saling berbagi dengan satu sama lain," ucap Raffi.

Ia menyebutkan sebanyak 94 persen remaja usia 13-18 tahun sudah terhubung dengan internet dengan penggunaan lebih dari lima jam sehari, oleh karena itu, peran orang tua menjadi penting dalam membatasi kegiatan mereka agar tetap produktif.

"Saya sendiri tidak melarang anak-anak saya di dunia digital, tetapi sebagai orang tua, tentu harus membatasi," paparnya.

Ia meminta Duta Genre untuk saling bergerak dan saling menguatkan satu sama lain, serta membuktikan bahwa Generasi Z bisa menjadi panutan untuk meraih Indonesia Emas.

"Menjadi Genre berarti berani berencana untuk masa depan, bergerak dan berdampak untuk Indonesia Emas 2045," tuturnya.

Sementara itu, Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyampaikan pemuda menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, kelompok usia 13-28 tahun mencapai 24,93 persen dari total penduduk Indonesia. Oleh karena itu, Isyana mendorong generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga berperan konkret dalam memajukan pembangunan.

"Salah satunya adalah bergabung dengan Forum Genre Indonesia. Potensi public speaking Duta Genre menjadi suatu hal yang penting. Mereka dapat berbicara dengan sesama remaja, bisa terjun langsung ke daerah-daerah yang terkena bencana untuk membantu dalam pemulihan mental," ujar Isyana.