NADIKABAR.COM — Matahari tepat berada di atas kepala saat Asim (53) menyandarkan gerobak pikulnya di tepian Jalan Raya Jalaksana Manis Lor, Kabupaten Kuningan. Di tengah bising kendaraan yang melintas, pria paruh baya ini tetap tenang melayani pembeli, jemarinya lincah meracik bumbu di atas cobek tanah liat yang menghitam.
Sambil mengulek, Asim mulai membuka lembaran ceritanya. Sebelum setia dengan pikulan tahu gejrotnya, ia sempat mengadu nasib di belantara Jakarta. Namun, panggilan untuk dekat dengan keluarga dan tuntutan ekonomi yang kian mendesak membawanya pulang ke tanah kelahiran 16 tahun silam. Kuningan pun dipilihnya sebagai tempat menyambung hidup.
"Asalnya dari Cirebon, sudah 16 tahun jualan tahu gejrot di sini. Dulu kerja merantau di Jakarta. Awal jualan itu di Cibulan. Saat itu di sana masih ramai, belum ada tukang tahu gejrot," tutur Asim.
Masa-masa awal di kawasan wisata Cibulan adalah masa keemasan bagi Asim. Kala itu, tahu gejrot racikannya menjadi primadona bagi para pelancong. Dalam sehari, ia bisa meraup omzet hingga satu juta rupiah. Stok tahu yang ia bawa seringkali ludes sebelum matahari terbenam.
"Dulu mah dua bisa kali ngambil tahu. Pagi jam 8 habis, ambil lagi terus jual lagi di Cibulan Sampai jam 5 habis lagi. Bisa 100 porsi habis Bawa tahu sampai 800 biji lebih. Satu juta mah dapet ya kalau Lebaran sama waktu liburan," tutur Asim.