Pembinaan qari-qariah, hafiz-hafizah, mufasir, penulis, dan kaligrafer harus berlangsung secara terencana dan berkelanjutan, tidak berhenti setelah kompetisi selesai.
Kedua, MTQ harus semakin inklusif. Pengembangan cabang bagi penyandang disabilitas perlu diikuti perluasan akses terhadap tenaga pengajar.
"Begitu juga dengan metode pembelajaran, dan fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas," tegas Nasaruddin.
Ketiga, generasi Qurani perlu menguasai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tanpa kehilangan integritas dan kompas moral.
"Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan, dakwah, dan akses pengetahuan, dengan tetap mewaspadai disinformasi, manipulasi, penyalahgunaan data, dan ujaran kebencian di ruang digital," sambungnya.
Keempat, MTQ harus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Nasaruddin mengatakan penyelenggaraan MTQ menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, UMKM, dan industri kreatif. Berdasarkan perhitungan Pemprov Jawa Tengah dan BPS yang disampaikan dalam penutupan, perputaran ekonomi selama MTQ diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.