"Baterai itu kan punya umur, nah mereka belum trust ke arah sana. Nah, baru di 2026, mereka merasakan bahwa baterainya ternyata awet," sambung dia.

Dia pun menilai faktor harga yang kian kompetitif juga menjadi pendorong utama menguatnya tren tersebut dalam sektor lifestyle dan home decor.

Jika pada periode awal kemunculannya harga satu unit lampu tenaga surya bisa menyentuh angka Rp700 ribu, kini inovasi teknologi memungkinkan harga jual turun drastis ke kisaran Rp200 ribuan tanpa mengesampingkan kualitas performa.

"Sekarang, benar-benar sudah disempurnakan, dari harganya terjangkau, dari speknya juga sudah oke. Ke depannya, untuk 2027, rasanya industri lighting akan ke arah sana, yang pakai solar itu," tutur Faisal.

Dia menyebutkan tren tersebut tidak hanya digandrungi oleh masyarakat di kawasan perkotaan yang mengusung estetika rumah ramah lingkungan, tetapi juga merambah ke daerah-daerah yang membutuhkan efisiensi infrastruktur.