Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck, menyatakan bahwa "sekitar 100 ekstremis sayap kiri yang teridentifikasi dengan jelas" telah menyusup ke dalam aksi protes di kota tersebut. Ia menambahkan bahwa cara berakhirnya aksi protes itu sungguh "memalukan".
"Kita semua masih ingat kejadian di Prancis-penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, serta serangan terhadap petugas kepolisian. Prancis sama sekali tidak boleh dijadikan contoh dalam hal ini," ujar Poseck.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa situasi di kota tersebut mulai mereda sepanjang malam hingga hari Minggu.
Aksi protes di Jerman ini berlangsung pada hari yang sama dengan demonstrasi berskala besar lainnya di Eropa.
Di Prancis, lebih dari 320.000 orang berpartisipasi dalam aksi protes yang berlangsung selama tiga akhir pekan berturut-turut. Meski sebagian besar berjalan damai di berbagai kota, para pengunjuk rasa menuntut tindakan nyata terkait tingginya biaya hidup dan buruknya layanan publik, khususnya di sektor pendidikan.
Ribuan petugas kepolisian dikerahkan di seluruh Prancis untuk menangani demonstrasi tersebut, dengan petugas sempat menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa di beberapa kota.
Lebih dari 500 orang ditangkap menyusul bentrokan yang terjadi di Toulouse, Lyon, dan Marseille.