Japar mengungkapkan betapa pesatnya lompatan kemampuan digital anak-anak zaman sekarang. Bahkan, iklim pembelajaran teknologi saat ini sudah menembus batas-batas usia formal.
"Saya lihat peserta didik saat ini, anak TK sudah belajar coding, sudah belajar ngerakit Arduino untuk anak SD. Padahal Arduino ataupun robotik itu juga sudah ada dalam perkuliahan. Ini bukti nyata meleknya anak-anak terhadap digital dan teknologi," ungkapnya.
Menurut Japar, penilaian pada kategori inovasi tidak hanya melihat bentuk fisik, melainkan nilai kemanfaatan nyata, kecanggihan teknologi, serta kesesuaian dengan tema berbasis teknologi tepat guna.
Kerja keras ratusan siswa dalam ajang tahunan ini tak sia-sia. Panitia pelaksana bersama mitra perguruan tinggi telah menyiapkan karpet merah bagi para jawara. Tak main-main, apresiasi setinggi-tingginya diberikan dalam bentuk beasiswa pendidikan hingga rekomendasi berlaga di panggung internasional.
Para pemenang dari ajang SRC ke-5 ini tercatat masuk dalam kurasi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Selain itu, mereka yang keluar sebagai juara diproyeksikan untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan robotik internasional di Malaysia yang bakal diikuti kontingen dari 10 negara.