NADIKABAR.COM — Ratusan wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat (SR) se-Sulawesi Selatan berikrar untuk bekerja totalitas, penuh empati dan siap diberhentikan apabila melakukan pelanggaran.
Ikrar tersebut dibacakan secara langsung di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat menghadiri kegiatan penguatan pengasuhan di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026).
Dalam arahannya, Gus Ipul mengatakan para wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat harus bekerja penuh disiplin dan tanggung jawab. Sebab, mereka merupakan kompas moral dan menjadi teladan bagi siswa-siswi.
"Ini yang saya titipkan, dua ini saja. Satu, disiplin, dua, tanggung jawab. Dua-duanya ini dilaksanakan, itu sungguh bisa menuntun kerja kita," kata Gus Ipul di hadapan 200 peserta pelatihan.
Gus Ipul menjelaskan, disiplin dalam arti yang utuh adalah para wali asuh dan wali asrama harus taat pada kode etik, aturan dan menghadirkan integritas.
Sedangkan tanggung jawab artinya tidak suka lempar tanggung jawab.
"Maka itu, saya minta kepada wali asrama, wali asuh, totalitaslah dalam bekerja, jangan setengah-setengah," katanya.
Dia mengatakan siswa-siswi yang bersekolah di Sekolah Rakyat merupakan anak-anak istimewa dan berasal dari latar belakang yang beragam. Beberapa di antaranya bahkan merupakan korban kekerasan, hingga memiliki masalah kesehatan fisik maupun mental.
"Ini yang harus didampingi dengan baik oleh bapak-ibu sekalian, jangan sampai bapak-ibu sekalian malah justru melakukan tindakan-tindakan yang tidak semestinya," jelas dia.
Oleh karena itu, Mensos meminta setiap wali asuh dan wali asrama bekerja menggunakan hati serta empati.
"Maka itulah, bapak-ibu sekalian kerja di lingkungan Kementerian Sosial membutuhkan empati, harus bekerja dengan hati," katanya.