Pada tahap pertama, KAI merencanakan reaktivasi jalur Kayu Tanam-Padang Panjang sepanjang sekitar 15,3 Km. Pelaksanaan konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027, setelah kajian teknis dan perencanaan rinci diselesaikan.

Bobby menjelaskan, proyek ini membutuhkan kajian menyeluruh karena kondisi geografis Sumbar memiliki tantangan tersendiri. Sejumlah segmen memiliki kemiringan jalur yang curam sehingga membutuhkan teknologi perkeretaapian yang sesuai, termasuk kemungkinan penggunaan rel bergerigi. Selain itu, terdapat sekitar 6.800 bangunan di sepanjang ruang jalur yang perlu ditangani melalui koordinasi, sosialisasi, dan dukungan pemerintah daerah serta unsur Forkopimda.

Sejumlah jembatan juga harus ditingkatkan kapasitasnya agar memenuhi standar operasional kereta api saat ini. KAI turut mempertimbangkan aspek pelestarian sejarah karena jalur perkeretaapian Sumatera Barat merupakan bagian penting dari warisan sejarah transportasi dan pertambangan di Indonesia.

Bobby menambahkan, potensi angkutan penumpang dan barang menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan proyek. Jumlah pelanggan kereta api di Sumatera Barat pada 2025 mencapai sekitar dua juta penumpang, meningkat 8,9 persen dibandingkan 2024. Sementara itu, jumlah penumpang pada semester I 2026 tumbuh sekitar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Potensi angkutan batu bara dari kawasan Ombilin juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam kajian pengembangan jalur. Dengan demikian, reaktivasi diharapkan tidak hanya mengembalikan layanan penumpang, tetapi juga membuka peluang pengembangan angkutan logistik yang mendukung kegiatan ekonomi daerah," kata Bobby.

Pencanangan di Kayu Tanam menjadi titik awal bagi upaya panjang menghidupkan kembali jaringan kereta api Sumbar. Dengan dukungan pemerintah pusat, Danantara Indonesia, KAI, DPR, dan pemerintah daerah, reaktivasi ini diharapkan mampu menghadirkan konektivitas yang lebih baik, memperkuat distribusi komoditas, mengurangi beban jalan raya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Ranah Minang secara berkelanjutan.

Bagi Andre Rosiade, langkah tersebut menegaskan bahwa pembangunan Sumbar membutuhkan kolaborasi dan keberlanjutan kebijakan. Andre berharap arahan Prabowo dapat diwujudkan melalui tahapan pekerjaan yang terukur, sehingga masyarakat Sumatera Barat tidak hanya menyaksikan pencanangan, tetapi juga merasakan manfaat nyata dari pembangunan jalur kereta api yang kembali beroperasi.