NADIKABAR.COM — Rekaman suara milik Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang meminta aksi dugaan pelecehan seksual tak dibongkar viral di media sosial. Abah kini memutuskan mundur dari sebagai pengasuh ponpes itu.
Dalam rekaman tersebut, dia terdengar meminta agar kasus dugaan pelecehan dan kekerasan seksual yang menyeret namanya tidak dibawa ke media. Rekaman itu viral setelah diungkap dalam laporan investigasi mendalam oleh BBC News Indonesia terkait dugaan kasus kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati ponpes yang terletak di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, tersebut.
Selain itu, Abah juga terdengar memohon kepada salah satu santrinya yang sedang mengumpulkan barang bukti agar mau menarik kesaksian serta menyembunyikan kasus tersebut demi menjaga nama baik dirinya dan lembaga.
"Kalau sudah nyampe media. Hancur sudah Abah nak, hancur lebur Abah nak, hancur pondok nanda. NWDI nanda. Bukan begitu caranya sayang ke Abah nak, ya Allah, tutup aib gurumu nanda, tutup aib gurunya nanda," kata Abah dalam video beredar, dilansir NadiKabar, Kamis (24/9/2026).
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan bahwa rekaman suara itu merupakan hasil investigasi dari salah satu mantan santri atas nama Yusron, yang sedang mengumpulkan barang bukti perbuatan sang Abah. Rekaman itu saat ini telah diserahkan ke penyidik Satreskrim Polresta Lombok Tengah untuk didalami.
"Waktu itu Yusron sudah membuat materi kronologis yang diserahkan ke salah satunya ke saya," kata Joko kepada NadiKabar, Rabu (23/9/2026).