Dia mengambil tempat duduk tepat di deretan sebelah kiri saya, berbeda lajur. Setelah duduk, wajahnya tampak lega.

Sejenak saya tersenyum. Pria itu mengingatkan pada diri sendiri. Saya sering kali harus membawa 'gerendelan' karena menggunakan transportasi umum.

Tak lama kemudian Misa dimulai. Di tengah khusyuknya Doa Syukur Agung, tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon genggam.

Pria itu tetap khusyuk seperti tidak peduli. Seorang bapak yang duduk di belakangnya mulai terusik. "Matikan!" katanya.

Pria itu bergeming. Suara dering berhenti. Namun kemudian berdering kembali. "Matikan!!", kata bapak itu lebih tegas, sambil mendorong pundak pria itu dengan ujung jarinya. "Bukan saya punya!" jawab pria itu tak kalah tegas tanpa menengok.

Seorang gadis di depan pria itu dengan kikuk berbisik kepada ibunya yang berdandan rapi. Dengan tenang ibu tersebut membuka tasnya, mengeluarkan telepon genggam dan mematikan, lalu dengan anggun mengembalikannya ke dalam tas, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Saat salam damai, saya bertatap muka dengan pria itu, senyumnya teduh, dia juga memutar badan ke belakang ke arah bapak tersebut, tetap dengan senyum teduhnya.

Ia memilih untuk tidak marah atau dendam. Ia telah bercermin bahwa dalam situasi yang sama, ia pun bisa salah. Indahnya cermin ini. Saya kagum dengan sikapnya.

Dalam konteks lain, bisa saja kita mengalami hal serupa. Kita tidak pernah benar-benar tahu, apa yang sebenarnya terjadi dan dialami orang lain.

Maukah kita terlebih dahulu bercermin sebelum langsung menghakimi? Karena penghakiman itu, sebenarnya mencerminkan wajah kita sendiri.

Sumber: Renungan Tiga TitikOleh: Dika Alberto

Ya Bapa, izinkanlah roh kerendahan hati bersemayam dalam diri kami untuk menghalau segala keangkuhan dan meruntuhkan sikap merasa paling benar, sehingga kami lebih memilih bercermin daripada menghakimi. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Jumat, 11 September 2026 lengkap dengan bacaannya. Tuhan Yesus memberkati!