Namun, kelancaran ini sedikit ternoda oleh manajemen logistik dasar. Mengubah toilet pria menjadi toilet wanita memang logis mengingat demografi mayoritas pengunjung, tapi eksekusinya membuat antrean penonton pria jadi ikut terbengkalai.
Belum lagi urusan air minum yang simpang siur di gerbang pemeriksaan membuat banyak botol tersita tanpa ada kejelasan akses air minum di dalam arena. Padahal, itu kebutuhan paling mendasar setelah berjam-jam mengantre.
Pada akhirnya, kekuatan fan meeting Gong Yoo di Jakarta terletak pada proses untuk menjadi lebih cair. Acara itu memang memiliki sejumlah catatan, mulai dari gangguan teknis di awal, sesi perbincangan yang sesekali terasa kurang segar, hingga beberapa aspek penyelenggaraan yang masih perlu dibenahi.
Namun, ketika Gong Yoo mulai nyaman dan interaksi dengan penggemar mendapat porsi lebih besar, suasana pun terasa jauh lebih hidup. Tiga jam tersebut memperlihatkan bahwa kehangatan fan meeting tidak selalu lahir dari rangkaian acara yang sempurna.
Terkadang, justru momen ketika seorang bintang terlihat kikuk, berusaha menyesuaikan diri, lalu perlahan tertawa dan bertingkah konyol bersama penggemarnya menjadi bagian yang paling membekas.