NADIKABAR.COM — Bencana dapat menimbulkan disrupsi terhadap berbagai aspek, termasuk kegiatan belajar. Namun, dampak bencana terhadap pendidikan anak-anak tidak hanya dirasakan secara real-time, tetapi bisa dirasakan bahkan hingga bertahun-tahun pascabencana.

Seperti yang ditemukan dalam sebuah riset di Australia ini. Dalam riset tersebut disimpulkan bahwa anak-anak yang berada di wilayah paling parah terdampak karhutla, memiliki performa akademik yang lebih buruk di beberapa mata pelajaran. Peneliti membandingkan performa akademik anak-anak tersebut dengan anak-anak yang tinggal di wilayah yang terdampak karhutla lebih ringan.

Penelitian tersebut diterbitkan pada 2019 lalu dengan judul "Delayed disaster impacts on academic performance of primary school children" dalam jurnal Child Development milik Society for Research in Child Development.

Salah satu peneliti, Lisa Gibbs mengatakan penelitian ini menganalisis performa akademik anak-anak terdampak karhutla selama empat tahun.

"Temuan ini menyoroti dampak akademik yang berlangsung dalam jangka panjang serta mengidentifikasi peluang penting bagi intervensi dalam sistem pendidikan agar anak-anak dapat mencapai potensi maksimal mereka," jelasnya, dikutip dari Science Daily.

Penelitian ini mengambil data dari 24.642 anak yang bersekolah di sekolah dasar di Victoria, Australia, yang terdampak kebakaran hutan Black Saturday pada Februari 2009. Peneliti membandingkan siswa di sekolah yang mengalami dampak tinggi atau sedang akibat kebakaran (berdasarkan aspek dampak karhutla terhadap kehidupan dan harta benda), versus siswa di sekolah yang mengalami dampak rendah atau tidak terdampak sama sekali.

Mereka melihat nilai akademik siswa dalam tes membaca, menulis, mengeja, berhitung, dan tata bahasa pada dua dan empat tahun setelah kebakaran. Tes-tes ini merupakan bagian dari National Assessment Program, yang digunakan untuk mengevaluasi keterampilan literasi dan numerasi dari waktu ke waktu melalui kurikulum sekolah.