Melawan Madrid, Roma relatif lebih lama mendominasi lawan. Tapi kecemerlangan individu lawan menjadi pembeda.
Melawan MU, Gasperini melihat timnya sebenarnya bisa merasakan lawan membangun momentum dan itu seharusnya bisa diredam. Misalnya dengan merusak ritme lewat pelanggaran-pelanggaran taktis dan menunda setiap restart permainan.
"Masalahnya adalah kami tidak lagi mampu mengikuti titik acuan mereka, sehingga mereka lebih unggul dalam melakukan tekanan -yang membuat kami tidak bisa mengembangkan permainan- serta dalam membangun serangan," sambung pelatih gaek ini.
"Hal itu memicu masalah bagi kami; seharusnya kami mencoba sedikit lebih sering memutus ritme permainan mereka melalui duel-duel tambahan dan memperlambat tempo pertandingan."