"Lebih dari 75 persen realisasinya di luar Jawa dari hilirisasi," ujarnya.
Rosan menyebut sektor industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh produk domestik regional bruto Maluku Utara sehingga provinsi tersebut tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah tambang, tetapi telah berkembang menjadi kawasan industri.
Surplus perdagangan Maluku Utara juga mencapai Rp31,1 triliun pada 2025, didorong ekspor produk olahan nikel, feronikel, nikel matte, mixed sulfide precipitation, nikel sulfat, dan kobalt.
Ia menjelaskan terdapat 10 proyek strategis di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dengan total investasi mencapai 10,2 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp180 triliun.