"Putri saya yang berusia dua bulan memiliki lubang di jantungnya. Dia tidak bisa mendapatkan perawatan dan akhirnya meninggal," ujarnya. Semua layanan disediakan sepenuhnya secara gratis. "Semua layanan, mulai dari rawat inap dan pemeriksaan medis hingga operasi dan obat-obatan, disediakan secara gratis," kata Dr. Atmanzai kepada Xinhua di kantornya.Naz Mohammad, ayah dari seorang anak perempuan berusia lima tahun, baru mengetahui kelainan jantung yang diderita putrinya setelah kembali dari bekerja di luar negeri.Dia kemudian mencoba mendapatkan diagnosis di rumah sakit swasta, namun biaya yang sangat mahal dan kondisi keuangan keluarganya yang sangat memprihatinkan membuat perawatan yang sangat dibutuhkan itu tak terjangkau. "Rumah sakit swasta meminta kami membayar antara 120.000 hingga 200.000 afghani untuk perawatannya. Saya tidak mampu membayarnya," paparnya.Kini dia harus menghadapi masa tunggu yang panjang, antara enam bulan hingga dua tahun, karena banyak keluarga yang tidak mampu membayar perawatan di rumah sakit swasta berbondong-bondong mendatangi fasilitas kesehatan umum tersebut.Namun demikian, Naz Mohammad tetap berpegang teguh pada harapan bahwa giliran putrinya akan tiba, bahwa putrinya akan menerima perawatan yang sangat dibutuhkannya, dan bahwa putrinya akan tumbuh lebih sehat dengan masa depan yang lebih cerah.Dr. Abdul Wali Atmanzai, kepala rumah sakit jantung tersebut, menjelaskan bahwa fasilitas itu mulai beroperasi sekitar dua bulan yang lalu, memberikan layanan diagnosis dan perawatan bagi anak-anak dengan kelainan jantung, termasuk mereka yang lahir dengan lubang di jantungnya.Bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah, perawatan khusus semacam itu telah lama sulit dijangkau. Hingga saat ini, sebanyak 154 anak telah menjalani operasi di rumah sakit tersebut, dengan empat hingga delapan prosedur dilakukan setiap hari.

Atmanzai mengamati lonjakan permintaan layanan, dengan 20 hingga 30 pasien baru yang mendaftar setiap hari. Meski statistik nasional yang komprehensif masih belum tersedia, dia memperkirakan bahwa lebih dari 100.000 anak di seluruh Afghanistan mungkin hidup dengan kelainan jantung.Tanpa diagnosis tepat waktu, fasilitas yang memadai, dan akses terhadap operasi khusus, banyak anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan intervensi yang menyelamatkan nyawa. "Di tingkat nasional, 20 hingga 25 persen dari anak-anak tersebut mungkin akan kehilangan nyawa," tuturnya.Bagi Atmanzai dan rekan-rekannya, setiap operasi yang berhasil melampaui sekadar tindakan medis. Hal itu melambangkan pulihnya senyuman seorang anak, meredanya penderitaan keluarga, dan bangkitnya kembali harapan untuk tahun-tahun mendatang. Selesai