NADIKABAR.COM — Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dini Nurfiani mengungkapkan Gunung Anak Krakatau yang sempat runtuh pada 2018 silam kini tumbuh kembali melalui aktivitas erupsi yang berlangsung secara bertahap.

Dini menjelaskan penelitian yang dilakukan oleh BRIN, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), University of Birmingham, ITB, Penn State Univerity, British Geological Survey, serta University of Oxford yang masih berlangsung hingga kini menemukan Gunung Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem yang dinamis.

"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Dini memaparkan sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.