NADIKABAR.COM β Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, bergerak melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang meningkat.
βInflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar,β ucapnya kepada NadiKabar di Jakarta, Kamis.
Secara tahunan, inflasi headline meningkat menjadi 3,7 persen year on year (YoY) dari 3,4 persen YoY, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen YoY. Inflasi September 2026 juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2026. Dia menyatakan kenaikan inflasi headline terutama didorong oleh peningkatan biaya energi.
Sementara itu, inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6 persen YoY dari 2,4 persen YoY, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen YoY. Kenaikan inflasi inti terutama didorong oleh peningkatan biaya shelter dan kendaraan.
βData inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tersebut memperkuat ekspektasi terhadap sikap The Fed yang hawkish, sehingga mendukung penguatan dolar AS,β ungkap Josua.
Hingga pagi ini, lanjutnya, investor masih memperkirakan kenaikan suku bunga kebijakan berikutnya akan terjadi pada Desember 2026.