Sepanjang pekan lalu, harga Brent telah meningkat sekitar 5 persen, sedangkan WTI naik sekitar 3 persen. Kenaikan tersebut membuat kedua acuan harga minyak itu berpeluang mencatat penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.

Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya perkiraan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/10) mengatakan negaranya mungkin akan melakukan serangan tambahan terhadap Iran.

Para pejabat AS dan Zionis Israel disebut telah menyusun rencana untuk melancarkan kembali serangan setelah pemilihan umum paruh waktu AS.

Selain itu, ketegangan regional juga meningkat ketika kelompok Ansarullah di Yaman terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ancaman terhadap infrastruktur energi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan personel yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi.

β€œMeskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga BBM (bahan bakar minyak) domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi,” ujar Ibrahim.

Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat dinilai mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN.