NADIKABAR.COM — Rusia melancarkan serangan ke pusat distribusi bantuan di Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan ada sembilan bom yang dijatuhkan tentara Rusia ke gedung tersebut hingga menyebabkan 40 orang meninggal.
Serangan itu terjadi pada Senin (2/11). Rusia menjatuhkan sembilan bom ke sebuah bangunan bekas sekolah yang digunakan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina.
"Mereka pertama-tama menyerang orang-orang yang datang untuk menerima bantuan kemanusiaan, kemudian menyerang petugas tanggap darurat dan aparat kepolisian yang tiba di lokasi kejadian," kata Zelensky dilansir CBS News, Kamis (5/11/2026).
Zelensky mengatakan proses evakuasi masih berlangsung hingga Rabu (4/11). Dia memperkirakan lebih dari 30 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan di wilayah tersebut menargetkan militer Ukraina. Rusia mengeklaim sebanyak 25 personel militer Ukraina tewas. Rusia membantah dengan sengaja menargetkan warga sipil, meskipun serangan-serangan mereka kerap menghantam gedung apartemen serta infrastruktur sipil lainnya.
Pada hari Selasa (3/11), Rusia melancarkan salah satu serangan terbesar tahun ini terhadap infrastruktur energi Ukraina yang menghantam berbagai fasilitas di 10 wilayah berbeda.
Serangan tersebut berdampak pada pasokan air di ibu kota Ukraina. Penduduk Kyiv kehilangan akses air bersih di rumah mereka selama lebih dari 16 jam. Kyivvodokanal, perusahaan penyedia air kota tersebut, menyatakan bahwa stasiun pasokan air dan pompa limbah di Kyiv telah kembali beroperasi pada Rabu sore.
Perwakilan dari Rusia dan Ukraina akan mengunjungi Gedung Putih, Amerika Serikat, pada hari Jumat (6/11) untuk bertemu dengan Melania Trump. Pertemuan ini menyusul langkah Ibu Negara AS tersebut dalam menengahi gencatan senjata sementara pekan lalu, yang memungkinkan evakuasi warga sipil serta penyaluran bantuan kemanusiaan ke Oleshky, sebuah kota di Ukraina selatan yang kini diduduki Rusia.
Menurut surat kabar Ukraina, Ukrinform, Komisaris Hak Asasi Manusia Ukraina Dmytro Lubinets dan Davyd Arakhamiia-pemimpin fraksi parlemen pendukung Zelenskyy-akan menghadiri pertemuan tersebut.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa utusan Rusia Kirill Dmitriev dan Komisaris Hak Asasi Manusia Yana Lantratova direncanakan mewakili Rusia dalam pertemuan itu, namun kendala visa dapat memengaruhi perjalanan mereka.
Zelenskyy juga menjanjikan respons Ukraina terhadap serangan Rusia di pusat bantuan Zaporizhzhia. Selain itu, sehari setelah Partai Demokrat mengambil alih kendali di kedua majelis Kongres AS, ia kembali mendesak perlunya tambahan rudal pencegat serta dukungan militer penting lainnya.
"Sayangnya, hanya ada sedikit reaksi dari dunia internasional terhadap serangan gila ini. Namun, seperti ribuan kejahatan perang lainnya yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina dan rakyat Ukraina, tindakan ini menuntut respons yang tegas," tulis Zelenskyy di platform X. "Kejahatan akan terus meluas jika dibiarkan tanpa tanggapan. Kami mengharapkan adanya respons-Ukraina sangat membutuhkan dukungan pertahanan udara saat ini. Saya berterima kasih kepada para mitra yang telah mengambil langkah-langkah tersebut."