Selain itu, kata dia, berbagai inovasi lain turut dikembangkan, di antaranya pengelolaan maggot, pembuatan eco enzyme, kolam gizi, serta pengomposan.

Terkait upaya mitigasi, pihaknya telah memanfaatkan 20 panel surya, meningkatkan tutupan vegetasi, serta menjalankan Gerakan Pemilahan Sampah (GPS).

“Kami juga mengembangkan Edu Trip untuk anak-anak sekolah agar mereka belajar langsung tentang pengelolaan lingkungan sejak dini,” tutur Masnur.

Sementara itu, perwakilan Tim Verifikator ProKlim 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup Koko Wijanarko mengatakan verifikasi itu dilakukan untuk melihat secara langsung inovasi dan implementasi program di setiap wilayah, khususnya dalam aspek adaptasi, mitigasi, dan kelembagaan.

“Kami sudah melihat berbagai inovasi yang ditampilkan. Selanjutnya, hasil verifikasi ini akan dibahas bersama tim untuk menentukan penilaian akhir,” ungkap Masnur.