Dr. Richard Waller, ahli geografi fisik dari Keele University, mengibaratkan kondisi pegunungan tinggi saat ini seperti tumpukan batu retak yang hanya disatukan oleh es.
"Ketika permafrost dan sambungan batuan yang dipenuhi es mencair, ada potensi terjadinya keruntuhan besar seperti ini," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.
Kondisi di Nepal memang menunjukkan anomali cuaca yang ekstrem sebelum bencana terjadi. Dr. Hamish Pritchard dari British Antarctic Survey mencatat bahwa suhu tanah di sekitar lokasi mencapai titik tertingginya dalam dua tahun, tepat dua hari sebelum gletser tersebut runtuh.
Suhu panas yang ekstrem ini disinyalir melemahkan lapisan salju dan mengisi rekahan gunung dengan air. Dampaknya, ikatan es dan batuan yang menjaga stabilitas gletser pun hancur. Meski demikian, para peneliti tetap berhati-hati dan tidak serta-merta menunjuk perubahan iklim sebagai satu-satunya biang keladi tunggal dalam tragedi di Nepal ini.