Terbaru, untuk menghadapi dampak kebakaran Arjuno, Ringgit, dan Welirang, PDI Perjuangan Jawa Timur menyiapkan 200 relawan dan 20 tangki air. Bantuan itu ditujukan bagi masyarakat terdampak.
Said menegaskan berbagai kegiatan tersebut tidak dimaksudkan mengambil alih tugas pemerintah. Menurutnya, gerakan kader merupakan wujud gotong royong sekaligus kesempatan mengetahui langsung persoalan masyarakat.
"Kalau setiap musim kemarau kita kembali membawa tangki ke desa yang sama, berarti ada persoalan yang belum diselesaikan," tegas dia.
Ia menambahkan bantuan darurat harus tetap berjalan. Namun, solusi permanen juga perlu dikerjakan.
Said juga meminta pemulihan kawasan hutan pascakebakaran menjadi bagian dari penanganan. Setelah api padam dan kondisi dinyatakan aman, perlu evaluasi kerusakan vegetasi, habitat, sumber mata air, dan daerah tangkapan air.
Evaluasi itu kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi sesuai kebutuhan ekologis tiap kawasan. Menurut Said, pemulihan harus berjalan setelah pemadaman selesai.
"Api padam bukan berarti pekerjaan selesai. Hutan yang terluka harus dipulihkan, sumber air harus dijaga," katanya.
Ia menyebut penolong manusia dan perawatan alam berasal dari tanggung jawab yang sama. Tanggung jawab itu adalah menjaga kehidupan.
"Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah semakin sedikit desa yang setiap tahun mengalami krisis air dan semakin kecil kawasan hutan yang terbakar," pungkas Said.