NADIKABAR.COM — Ada sesuatu yang berbeda pada peringatan hari ulang tahun TNI, 5 Oktober, tahun ini. Monas tidak menjadi panggung bagi parade panjang kendaraan tempur, deru pesawat, dan barisan alutsista seperti yang selama ini akrab dalam perayaan Hari TNI.

Puncak peringatan HUT ke-81 TNI dipindahkan ke Lapangan Prima, Kompleks Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, dan berlangsung dalam upacara yang lebih sederhana dan khidmat.

Bagi publik yang terbiasa dengan ritual kemegahan, ketiadaan parade akbar itu mungkin terasa seperti sebuah pengurangan. Namun, ada kalanya sebuah perayaan justru menemukan maknanya ketika ada sesuatu yang tidak dipertontonkan.

Ratusan kendaraan dan alutsista yang semula hendak memenuhi Monas tidak jadi berbaris. Sailing pass di Teluk Jakarta pun ditiadakan. Sebagian prajurit dan armada justru difokuskan untuk tugas penanganan bencana dan misi kemanusiaan di berbagai daerah.

"Banyak prajurit yang sedang melaksanakan penugasan penanganan bencana,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI Muhammad Nas seperti dikutip ANTARA.

Beberapa pekan sebelumnya, masyarakat memang telah sempat melihat wajah TNI yang lebih gemerlap melalui TNI Fair di Monas.

Kini, ketika hari ulang tahun tiba, panggung itu justru menjadi lebih kecil.

Ada hal menarik yang patut direnungkan dari perubahan tersebut. Kekuatan militer ternyata tak selalu hadir lewat deru mesin tempur atau kilau tank baja. Terkadang, justru lebih terpancar saat seorang prajurit melangkah turun dari panggung, mengenakan perlengkapannya, lalu bergegas menuju tempat seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Terlepas dari itu, bagaimanapun bentuk perayaannya, selalu ada hal yang menggetarkan dari peringatan HUT TNI. Momen ini mengingatkan kita bahwa negara bukan sekadar kumpulan warga yang kebetulan tinggal di dalam batas yang sama, melainkan rumah bersama yang harus dijaga.

​Di sinilah tema Hari TNI tahun ini, “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, terasa begitu bermakna. Kalimat tersebut menyimpan urutan yang penting: dimulai dari kuat, menjadi berdaulat, hingga akhirnya mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.

Urutan tersebut seolah-olah mengingatkan bahwa kekuatan TNI bukan tujuan terakhir, tapi alat untuk mencapai sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kehidupan bersama yang aman, layak, dan bermartabat.