Menurutnya, BSA bukan semata membandingkan kemajuan antarwilayah, namun menyoroti aspek fundamental perkotaan hingga penerapan teknologi tepat guna di tingkat tapak.

"BSA ini kan yang didorong tidak hanya sekadar komparatif dalam hal kemajuan sebuah wilayah kelurahan, tetapi pada hal-hal yang basis, soal kebersihan, kenyamanan, keindahan, bahkan ini ada teknologi-teknologi terapan yang bisa dilakukan oleh masyarakat di wilayah kelurahan," tutur Sigit.

Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama Daerah Setda Provinsi DKI Jakarta, Tona Hutauruk, mengapresiasi pelaksanaan festival kelurahan tanpa membebani anggaran fiskal daerah secara langsung. Festival ini bergulir dengan keterlibatan masyarakat dan skema pembiayaan kreatif (creative financing).

"Tidak ada pembebanan secara fiskal langsung, tetapi dapat ditampilkan melalui kolaborasi bersama masyarakat. Jadi memang terlihat tercermin kekompakan, partisipasi aktif masyarakat, dan ini merupakan nilai plus bersumber dari creative financing dengan mengajak warga dan mitra," katanya.

Dalam konteks transisi Jakarta menuju umur 500 tahun dan berstatus kota global, Tona menekankan pentingnya ajang ini sebagai pendorong daya saing dari tingkat lokal.