NADIKABAR.COM — Penumpukan sampah organik dari aktivitas dapur harian masih menjadi tantangan lingkungan yang kritis di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbunan sampah nasional didominasi oleh sisa makanan (40 persen) dari total limbah harian.
Ketika sisa dapur berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa adanya pengolahan, limbah tersebut membusuk secara anaerob (tanpa bantuan oksigen) dan menghasilkan gas metana (CH4).
Menurut laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), gas metana memiliki potensi pemanasan global (global warming potentional) hingga 21 sampai 28 lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida (CO2)
Mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos organik di rumah secara langsung menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memperbaiki ekosistem tanah secara perlahan. Satu riset dari Bappenas bersama WRI Indonesia (2021) mencatat bahwa food loss and waste di Indonesia menyumbang sebesar 7,29 persen emisi gas rumah kaca tahunan.
Di sisi lain, riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta lembaga studi pertanian seperti Central Agri Biotech mengonfirmasi bahwa penambahan kompos padat dapat meningkatkan porositas tanah, retensi air dan aktivitas mikroba tanah secara signifikan dibandingkan penggunaan pupuk kimia sintetis secara terus-menerus.
Berikut cara membuat pupuk kompos yang benar:
Pengomposan yang efisien memerlukan perbandingan ideal antara bahan kaya karbon (unsur cokelat) dan bahan kaya nitrogen (unsur hijau):
Bahan hijau (kaya nitrogen): potongan sayuran, kulit buah, ampas kopi, sisa teh, dan potongan rumput segar.
Bahan cokelat (kaya karbon): daun kering, sekam padi, serbuk kayu, atau potongan kertas/kardus cokelat tanpa lapisan plastik.
Bahan tambahan: cangkang telur yang dihancurkan (sebagai sumber kalsium alami).
Pembuatan kompos skala rumah tangga disarankan menggunakan metode aerob (membutuhkan oksigen) agar tidak menimbulkan bau pembusukan:
Siapkan wadah: gunakan ember plastik bekas, drum, atau pot besar yang memiliki penutup rapat.
Buat lubang sirkulasi (aerasi): lubangi dasar dan sekeliling dinding wadah menggunakan bor atau paku panas (diameter 0,5 cm). Sirkulasi udara ini mencegah kondisi anaerobik pembentuk gas metana.
Sediakan penampung lindi: letakkan wadah di atas tatakan untuk menampung cairan hasil dekomposisi (air lindi).
Langkah-langkah pengisian (Metode layering)
Tata bahan organik ke dalam wadah komposter secara bertahap:
Lapisan dasar (drainase): masukkan ranting kecil, sekam, atau daun kering setebal 5–10 cm di bagian paling bawah untuk menjaga sirkulasi udara di dasar wadah.
Lapisan hijau (limbah dapur): masukkan sisa dapur yang telah dicacah kecil-kecil (ukuran 2–3 cm) agar penguraian oleh bakteri berjalan lebih cepat.
Lapisan cokelat: tutup lapisan sampah dapur dengan daun kering atau serbuk kayu. Gunakan perbandingan volume sekitar 2 bagian bahan cokelat : 1 bagian bahan hijau.
Bioaktivator (opsional): percikkan larutan bioaktivator (seperti EM4 pertanian atau air cucian beras) untuk mempercepat pertumbuhan mikroba pengurai.
Penutupan: selalu akhiri tumpukan baru dengan lapisan bahan cokelat di bagian paling atas untuk menahan aroma dan mencegah datangnya lalat. Tutup wadah hingga rapat.
Perawatan dan indikator kematangan kompos
Pengadukan rutin: aduk tumpukan kompos seminggu sekali untuk meratakan pasokan oksigen ke seluruh bagian bahan.
Kontrol kelembapan: kompos yang ideal memiliki kelembapan menyerupai busa basah yang diperas (lembap, tetapi tidak meneteskan air). Jika terlalu kering, semprotkan sedikit air; jika terlalu basah, tambahkan daun kering atau serbuk kayu.
Masa panen: kompos matang dalam waktu 4 hingga 8 minggu.
Ciri-Ciri kompos organik yang siap digunakan :
Berwarna cokelat kehitaman menyerupai warna tanah humus.
Bertekstur gembur dan renyah (crumbly).
Beraroma segar khas tanah alami (tidak berbau asam atau berbau pembusukan menyengat).
Suhu tumpukan kembali stabil sesuai suhu ruangan (tidak lagi hangat akibat reaksi dekomposisi aktif).
Kompos yang telah matang dapat disaring dan dicampurkan langsung ke media tanam dengan perbandingan 1:3 (1 bagian kompos : 3 bagian tanah) untuk menutrisi tanaman hias, sayuran, maupun buah-buahan di pekarangan rumah secara aman dan berkelanjutan.