KH Fatchulloh turut menegaskan posisi penting Dusun Gedang dalam sejarah NU karena kawasan tersebut menjadi tempat lahirnya KH Hasyim Asy'ari.

Kehadiran Sarmuji dalam forum tersebut juga memiliki sisi personal. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan tradisi pesantren karena ibundanya merupakan sosok yang aktif di Muslimat NU.

Sarmuji mengenang bagaimana sang ibu, meski tidak terlalu lancar membaca kitab, memiliki hafalan kuat terhadap Sullam Taufiq.

Ia kemudian menirukan potongan hafalan yang pernah diajarkan ibunya.

"Saya ingat betul, almarhum sering mengucapkan: 'Alhamdu utawi sekabehane puji, lillahi iku kagungane Allah, Rabbil 'alamina kang pengerane alam kabeh...'," kata Sarmuji.

Kenangan tersebut membuatnya merasa memiliki ikatan tersendiri dengan forum yang digelar di lingkungan pesantren.

Bagi Sarmuji, halaqah semacam ini menjadi ruang penting untuk kembali mengingat akar pemikiran NU. Terlebih forum digelar di lokasi yang secara historis berkaitan langsung dengan perjalanan KH Hasyim Asy'ari dan perkembangan pesantren Tambakberas.

Puluhan peserta mengikuti acara sejak selepas salat Isya. Mereka datang dari berbagai daerah, di antaranya Surabaya, Makassar, Pemalang, Blitar, serta para santri Tambakberas dari sejumlah wilayah.

Diskusi berlangsung hingga selesai dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembahasan Qanun Asasi masih memiliki relevansi kuat, bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai bahan refleksi bagi perjalanan NU ke depan.