Dampaknya pun jauh lebih mematikan bagi lingkungan. Estimasi menunjukkan bahwa kebakaran gambut menghasilkan partikel halus (particulate matter) tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis biasa. Tak hanya itu, emisi sulfur dioksida melonjak lima kali lipat, karbon organik tiga kali lipat, serta metana dan karbon monoksida mencapai dua kali lipat.

Indonesia sendiri merupakan "benteng" terakhir bagi sekitar 36% lahan gambut tropis dunia. Namun, saat kemarau panjang melanda, wilayah Kalimantan, Sumatra, hingga Papua bisa berubah menjadi medan kebakaran hebat yang sulit dikendalikan, mengulang memori kelam tahun 1997 dan 2015.

Sebagai perbandingan, pada tragedi 2015 silam, kebakaran yang mengamuk selama tiga bulan melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca-angka yang melampaui total emisi tahunan negara industri seperti Jepang. Per 2 September 2026, kebakaran tahun ini yang baru berjalan sebulan saja sudah melepaskan sekitar 10% dari total emisi kebakaran dahsyat 2015 tersebut.

Data dari platform SiPongi milik Kementerian Kehutanan RI, yang mengintegrasikan data satelit MODIS dan VIIRS, mencatat setidaknya ada 946 titik panas (hotspot) pada 31 Agustus 2026.