NADIKABAR.COM — Pakar sekaligus Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari ingatkan ancaman meningkatnya potensi konflik hewan dan manusia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ia menjelaskan karhutla terjadi di areal perkebunan, hutan sekunder, bahkan hutan primer yang menjadi habitat penting bagi satwa liar. Ancaman paling serius dari karhutla bagi mereka adalah kematian satwa akibat terbakar.

Ketika hutan terbakar, satwa endemik dan langka yang bergantung pada ekosistem tersebut kehilangan habitatnya. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri akan merasakan berbagai kehilangan.

"Orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologi ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat," tutur Mustari dikutip dari laman IPB University, Kamis (3/9/2026).

Hilangnya habitat, membuat satwa liar juga kehilangan sumber makanan dan air. Ketika hutan terbakar, pada dasarnya hewan punya insting untuk menyelamatkan diri.