Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengatakan sistem pertahanan udara Arab Saudi mencegat dan menghancurkan drone tersebut pada Selasa (15/9) sekitar pukul 18.50 waktu setempat. Drone disebut berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Mekkah, sementara puing-puingnya jatuh di sebelah selatan kota.

Al-Malki menyebut insiden tersebut sebagai upaya kedua Houthi untuk menargetkan Mekkah. Ia merujuk pada peluncuran rudal balistik yang menurut koalisi Saudi diarahkan ke Mekkah pada Juli 2017.

Keamanan Dua Masjid Suci dan para jemaah, kata Al-Malki, merupakan "red line" atau garis merah bagi Arab Saudi. Dia menegaskan koalisi akan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah serangan serupa.

"Keamanan Dua Masjid Suci dan para jemaah adalah red line, dan Komando Pasukan Gabungan Koalisi tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan dan memberikan efek jera terhadap milisi teroris Houthi," kata Al-Malki dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial X.

Kelompok Houthi membantah tudingan Arab Saudi bahwa mereka meluncurkan drone yang diarahkan ke Mekkah. Pejabat biro politik Houthi, Hazem al-Assad, menyebut tudingan 'basi' atau sudah pernah digunakan sebelumnya.

"Klaim mengenai penargetan Mekkah adalah kebohongan usang yang pernah digunakan sebelumnya," tulis Hazem al-Assad di akun X, dilansir AFP, Rabu (16/9/2026).

Dia menegaskan klaim tersebut tidak lagi dapat memperdaya publik. "Tidak lagi dapat memperdaya siapa pun," imbuhnya.