NADIKABAR.COM — 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekankan pentingnya sikap negarawan bagi para politisi dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Menurutnya, kepentingan bangsa dan negara harus ditempatkan di atas kepentingan partai politik.
"Mari bersama-sama bangsa ini, di samping lihat kepentingan jangka pendek tapi juga melihat apa yang hendak kita raih pada jangka yang lebih panjang lagi," kata SBY saat orasi ilmiah dikutip NadiKabar dari YouTube FISIP Unpad, Rabu (14/10/2026).
SBY lalu bicara pola pikir para politisi. Dia menekankan sah-sah saja ketika politisi memikirkan bagaimana cara agar terpilih kembali di pemilu berikutnya.
"Politisi biasanya yang dipikirkan pemilu berikutnya lagi, betul? Kalau gubernur, bupati, wali kota, presiden, semoga terpilih kembali, itu sah, tidak salah, anggota DPR, DPRD, DPD, terpilih kembali, itu tidak salah, politisi," ucap dia.
Namun demikian, dia menilai negarawan harus punya pola pikir berbeda. Dia menekankan negarawan harus memprioritaskan negara di atas partai politiknya.
"Tapi negarawan harus memikirkan masa yang jauh ke depan. Stateman, stateman itu tidak harus mantan presiden, bukan semua bisa menjadi negarawan kalau memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya. Country over party (negara di atas partai politik). Country first. Jangan dibalik. Jangan partai politik yang diutamakan. Negaranya belakangan, wrong," ujar SBY.
SBY Ingatkan Indonesia Emas 2045 Jangan Jadi Ilusi
Dalam kesempatan yang sama, SBY turut menyoroti visi Indonesia Emas 2045. Dia mengaku agak konservatif dengan visi tersebut.
"Saya ingin ajak teman-teman semua secara khusus melihat masa depan Indonesia kita, banyak yang katakan tahun 2045 kita akan mengalami Indonesia Emas, saya agak konservatif, tambahkan insyaallah, saya juga agak konservatif kalau tidak bisa jadi negara emas apa yang bisa kita raih," tutur SBY.
Dia lalu membahas perihal mencapai tujuan. Dia menegaskan tujuan harus do-able dan achieveable.
"Afterall yang ngerti manajemen tentu kita semua paham kalau menetapkan goal, tujuan, itu harus diyakini realistic dan do-able dan achieveable, harus dihitung timeline yang ada, resources kita seperti apa, sejarah perkembangan negara kita seperti apa, sehingga ketika punya visi 2045 pastikan visi itu bisa kita capai dengan segala kerja keras kita dengan segala pikiran cerdas kita dengan semua integritas yang dimiliki para penyelenggara negara dan para pemimpin, begitu," jelas dia.
Lebih lanjut, SBY juga membahas pemimpin yang tak kenal sejarah. Menurutnya, pemimpin semacam itu akan cenderung mengulangi kesalahan di masa lalu.
"Pemimpin yang tidak mengenal sejarah tends to repeat the mistake of history, sehingga siapapun, pemimpin manapun, pahami sejarah," ujar dia.
"Kalau saya rangkum 1 kata saja atau beberapa kata saja why nations suceed? And why nations fail? Itu ditentukan institusi dan tata kelola negara, saya tak mau elaborasi, mari kita renungkan," lanjut dia.
SBY kemudian menegaskan bahwa Indonesia harus mampu menjalani transformasi besar untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara maju. Dia mengingatkan Indonesia Emas 2045 tak akan terwujud jika bangsa ini gagal melakukan perubahan mendasar.
"Indonesia bukan nation in waiting, bukan hanya nation on the move, tetapi bangsa yang menjalankan great transformations. Kalau kita gagal bertransformasi, Indonesia Emas 2045 itu ilusi," pungkas dia.