Perjalanan pesan berlanjut melalui Terusan Suez menuju Port Said. Dari sana, kabar tersebut diteruskan melewati Malta dan Gibraltar, kemudian menuju Porthcurno di Cornwall, Inggris.
Pesan itu akhirnya menyeberangi Samudra Atlantik menuju stasiun penerima Reuters di Newfoundland dan Boston.
Rangkaian jaringan tersebut membuat kabar tentang bencana di Krakatau, yang berada ribuan kilometer dari Eropa dan Amerika, dapat diketahui dengan sangat cepat.
Kecepatan penyebaran berita tersebut tergolong luar biasa untuk ukuran abad ke-19.
Surat kabar The Boston Globe bahkan memuat berita mengenai letusan Krakatau di halaman depan hanya sekitar empat jam setelah informasi tersebut diterima.
Keesokan paginya, masyarakat yang bepergian menggunakan kereta kuda di Boston dan New York sudah dapat membaca kabar mengenai bencana besar yang terjadi di Indonesia.
Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana teknologi komunikasi mulai mengubah cara manusia mengetahui kejadian di belahan dunia lain.
Sebagai perbandingan, ketika Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dibunuh pada 1865, berita tersebut membutuhkan waktu sekitar 12 hari untuk mencapai London.
Hanya 18 tahun kemudian, kabar letusan Krakatau dapat melintasi jaringan komunikasi global dalam hitungan jam.
Cepatnya berita Krakatau menyebar bukan satu-satunya hal yang membuat letusan 1883 menjadi peristiwa bersejarah.
Kekuatan letusan Krakatau juga luar biasa. Suara ledakannya dilaporkan terdengar hingga Pulau Rodriguez di Samudra Hindia, sekitar 4.653 kilometer dari Krakatau.
Suara tersebut juga terdengar hingga Alice Springs, Australia, yang berjarak sekitar 4.800 kilometer.
Gelombang kejut akibat ledakan bahkan mengelilingi dunia hingga tujuh kali.