Dampak keterbatasan tersebut juga tidak sama pada setiap cabang.

Atletik, misalnya, harus menyesuaikan program karena efisiensi anggaran.

Rencana sejumlah atlet berlatih di luar negeri berubah. Dua pelari jarak jauh yang sebelumnya dijadwalkan berlatih di Kenya akhirnya menjalani program di Indonesia. PB PASI juga menggunakan pendanaan mandiri untuk menutup kebutuhan yang belum terpenuhi.

Akuatik mempunyai cerita berbeda. Pengurus Besar Akuatik Indonesia menyatakan pelatnas tetap berjalan meski terjadi efisiensi karena klub-klub yang menaungi atlet tetap beroperasi dan federasi terus menjalankan program.

Ada pula tinju, anggar, dan tenis meja yang akhirnya berangkat ke Asian Games dengan pendanaan mandiri dari federasi serta dukungan mitra.

Di satu sisi, kondisi tersebut memperlihatkan gotong royong yang kuat.

Federasi, klub, sponsor, dan pihak lain tidak hanya menunggu negara. Namun mencari jalan agar atlet tetap berlatih dan tetap bisa berangkat.