NADIKABAR.COM — Ada kabar membanggakan dari dunia perfilman Indonesia. Film Ibuku berhasil memenangkan Busan Award Special Jury Prize dalam kategori bergengsi Main Competition di Busan International Film Festival (BIFF) 2026.
Kemenangan film garapan sutradara Eddie Cahyono dan diproduseri oleh Tika Bravani itu mencetak sejarah baru, menjadikan Ibuku sebagai film Indonesia yang berhasil meraih penghargaan di kompetisi utama BIFF.
Busan Award Special Jury Prize merupakan penghargaan prestisius yang diberikan secara khusus oleh dewan juri kepada film di dalam kompetisi yang diakui atas pencapaian sinematiknya yang luar biasa (outstanding cinematic achievement).
Eddie Cahyono lantas maju ke atas panggung BIFF 2026 untuk menerima penghargaan. Ia tampak terharu dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras timnya.
"Terima kasih BIFF, karena film ini dibuat 11 tahun yang lalu. Saya mencoba untuk membuat film ini menjadi kenyataan. Saya dan Christine Hakim berjanji untuk menyelesaikan film ini bersama. Terima kasih ke produser saya, Tika Bravani, perempuan berani yang mewujudkan film ini. Saya mendedikasikan film ini ke pekerja imigran Indonesia, karena saya menulis film ini untuk mereka, serta para keluargaku, khususnya ibuku di rumah yang mungkin menonton saya," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (15/10/2026).
Film Ibuku diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi industri perfilman Tanah Air, tetapi juga dapat menyuarakan realitas kehidupan keluarga yang ditinggal pekerja migran Indonesia kepada audiens global. Filmnya sendiri direncanakan akan menyapa penonton Indonesia dalam waktu dekat.
Ibuku menampilkan kolaborasi akting memukau dari aktris Christine Hakim dan Ayushita. Film itu memang lahir dari proses kreatif dan perjuangan panjang yang emosional selama lebih dari satu dekade.
Dalam Ibuku diceritakan Sumiati (Christine Hakim), seorang ibu yang berjuang menemui anaknya, Sri (Ayushita), yang divonis hukuman mati di penjara Arab Saudi karena dituduh membunuh majikannya. Di balik upaya pertemuan itu, film ini menyingkap luka lama di antara ibu dan anak, sekaligus menyentuh isu buruh migran, perempuan, dan hak asasi manusia yang jarang digarap secara personal dalam sinema Indonesia.