NADIKABAR.COM — Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) di Indonesia tidak lahir secara instan. Ajang yang kini menjadi syiar Islam terbesar di Tanah Air ini memiliki rekam jejak panjang, bermula dari tradisi seni membaca Al-Qur'an di tengah masyarakat hingga menjelma menjadi agenda nasional yang dilembagakan oleh pemerintah.

Pada tahun 2026, ajang bergengsi ini memasuki gelaran yang ke-31 di Semarang, Jawa Tengah. MTQ terus berkembang bukan sekadar sebagai perlombaan seni suara, melainkan wadah komprehensif untuk mendalami, menghafal, menafsirkan, hingga menalar ajaran suci Al-Qur'an.

Akar dari tradisi MTQ telah tumbuh sejak dekade 1940-an bersamaan dengan berdirinya Jam'iyyatul Qurra wal Huffadz oleh Nahdlatul Ulama (NU). Kegiatan membaca Al-Qur'an dengan seni suara (tilawah) marak berkembang di berbagai daerah di Indonesia.

Mantan Menteri Agama (2014-2019), Lukman Hakim Saifuddin (LHS), dalam pembukaan MTQ Nasional XXVI di Islamic Centre Mataram, Nusa Tenggara Barat (30/7/2016), pernah mengulas kilas balik cikal bakal perhelatan ini.

"Pada mulanya, kegiatan ini diinisiasi para qari di Masjid Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1950-an. Majelis pembacaan Qur'an dengan seni suara itu dimaksudkan sebagai upaya penjiwaan terhadap Qur'an di sanubari umat Islam agar mereka menjadi manusia yang lebih berbudaya," tutur Lukman, dikutip dari laman Kemenag.

Gaya dakwah ini sejatinya meneruskan tradisi Wali Songo. Antusiasme umat yang begitu besar mendorong salah satu penggagas majelis, Kiai Bashori Alwi, untuk menyuarakan gagasan perlombaan baca Al-Qur'an kepada pemerintah. Dari sinilah, gerakan berbasis masyarakat mulai bergeser menjadi musabaqah yang terorganisasi secara formal.

Gagasan lomba Al-Qur'an mendapat sambutan hangat dari Presiden Pertama RI, Soekarno. Bung Karno meresponsnya dengan menggelar musabaqah bertaraf internasional pada momentum Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Bandung pada tahun 1965.