Dengan pemasangan seng tersebut, pihaknya mengaku tidak bisa mengakses Pelataran Keraton Solo. Padahal semua kegiatan dilakukan di Pelataran Keraton Solo.
"Ya, berarti kita tidak bisa mengakses pelataran. Iya, semua prosesi adat di situ dan kita juga sebenarnya caos dhahar kan setiap hari Kamis kita caos dhahar itu muter semua keraton. Nah, kita enggak bisa caos dhahar di sana karena ditutup sama mereka," terangnya.
Saat penutupan menggunakan seng tersebut, Ratih mengaku sempat bertemu dengan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng. Ia juga sempat menanyakan alasan penutupan sejumlah lokasi.
"Pertama diseng di situ, lalu mereka lari ke sini. Saya tanya tadi, sempat ketemu Gusti Moeng, 'Kenapa mesti diseng-seng gitu sih?', Dia jawabnya bukan seperti yang dikatakan laporan akan direvitalisasi, bukan. Dia jawab, "Lah kowe gembok-gembok, aku gembok-gembok balik', gitu jawabannya," ujarnya menirukan.
Ditanya mengenai kegiatan di waktu dekat, ia mengaku belum ada. Meski begitu, pada Oktober akan ada kegiatan Tingalan Jumenengan pertama PB XIV Purbaya.