NADIKABAR.COM — Bangsa (NadiKabar) - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengecam serangan geng yang dilaporkan terjadi pada Senin (28/9) di Gros-Morne, departemen Artibonite, Haiti.

Serangan mengerikan itu, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang, menjadi pengingat tentang besarnya korban yang terus ditimbulkan oleh kekerasan geng terhadap warga Haiti yang tinggal di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali atau pengaruh geng bersenjata, kata Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric pada Rabu (30/9).

Insiden ini juga menyoroti mendesaknya penguatan upaya keamanan di Haiti, termasuk melalui pengerahan penuh Pasukan Penumpas Geng (Gang Suppression Force/GSF), serta perlunya meningkatkan upaya yang lebih luas untuk mengatasi faktor-faktor pendorong kekerasan dan ketidakstabilan di negara itu, kata Dujarric dalam konferensi pers rutin.Lebih dari 3.000 orang tewas di Haiti antara Januari dan Juni, katanya, mengutip data dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia."Kami dan mitra kami terus menyediakan makanan, layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan bantuan tunai darurat. Namun, kebutuhan kemanusiaan terus melebihi sumber daya yang tersedia," ujar Dujarric.Rencana kebutuhan dan respons kemanusiaan untuk Haiti, yang membutuhkan 880 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.921) untuk membantu 4,2 juta orang, hingga kini baru didanai kurang dari separuhnya, sementara tahun ini hanya tersisa tiga bulan, kata Dujarric.Jubir Sekjen PBB tersebut pada Selasa (29/9) mengatakan bahwa Sekjen PBB menyambut baik pengesahan Resolusi Dewan Keamanan 2829, yang memperpanjang mandat GSF di Haiti selama enam bulan.Sekjen PBB menyerukan kepada negara-negara anggota untuk melanjutkan momentum ini dengan bekerja tanpa henti guna memastikan pengerahan personel yang tersisa secara tepat waktu, sehingga pasukan tersebut dapat sepenuhnya melaksanakan mandat pentingnya, kata Dujarric.