Kecepatan bukanlah segalanya bagi seorang pemandu. Sekuat apa pun kemampuannya berlari, Peter tidak boleh meninggalkan Taufik.

Ia harus terus berada di sampingnya, menyelaraskan langkah, dan memastikan Taufik tetap menjadi pelaku utama dalam perlombaan.

Kebersamaan yang baru berlangsung sekitar tiga bulan itu mengantarkan Taufik meraih medali perak nomor 100 meter T11.

Taufik mencatatkan waktu 11,48 detik pada final, hanya terpaut 0,01 detik dari pelari Irak Mohammed Ayade yang merebut emas dengan 11,47 detik.

Padahal, pada babak penyisihan, Taufik tampil lebih cepat dengan waktu 11,30 detik yang tercatat sebagai rekor perlombaan.

Taufik mengaku sempat optimistis dapat meraih emas. Namun, cedera lama pada kakinya kembali terasa setelah babak penyisihan sehingga penampilannya di final tidak maksimal.

"Habis babak penyisihan ternyata kaki saya bermasalah," katanya.

Meski hasil akhir tidak sepenuhnya sesuai harapan, perjalanan itu tetap menjadi pengalaman berharga bagi Taufik dan Peter yang baru dipasangkan menjelang pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia tersebut.