NADIKABAR.COM — Yayoi Kusama dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir lewat Infinity Rooms yang Instagramable, instalasi imersif yang memanfaatkan cermin, cahaya, dan permukaan reflektif untuk menciptakan ilusi ruang tanpa batas, serta deretan patung polkadot berukuran raksasa. Namun di balik karya-karyanya yang tampak ceria, tersimpan kisah tentang perjuangan panjang menghadapi tekanan sosial dan gangguan kesehatan mental.
Saat berusia sekitar 10 tahun, Kusama mulai mengalami halusinasi berupa titik-titik dan pola jaring yang seolah menyelimuti segala sesuatu di sekelilingnya. Ia mengaitkan pengalaman itu dengan tekanan psikologis yang dialaminya ketika tumbuh besar bersama ibu yang tidak mendukung minat seninya, melarangnya melukis, dan berusaha menempatkannya dalam peran tradisional yang diharapkan dari seorang perempuan. Meski halusinasi tersebut terus dialaminya hingga usia lanjut, Kusama belajar hidup berdampingan dengannya dan menjadikannya bagian dari proses kreatifnya.
"Karya seniku adalah ekspresi dari hidupku, khususnya dari penyakit mentalku," kata Kusama dalam wawancara dengan Bomb Magazine.
Setelah menempuh pendidikan di Sekolah Seni dan Kerajinan Kyoto, Yayoi Kusama menggelar pameran pertamanya di kota kelahirannya, Matsumoto. Sejak awal kariernya, ia juga berbicara secara terbuka tentang kondisi kesehatan mentalnya, pada masa ketika isu tersebut masih kerap dipandang sebagai stigma.
"Sungguh luar biasa bahwa ia membahasnya dengan begitu terbuka," kata Stephan Diederich, kurator pameran retrospektif Kusama di Museum Ludwig, Kln, yang digelar pada 2026.
"Bagi dia, seni adalah strategi bertahan hidup dan bentuk terapi, yang selalu ia sampaikan dengan jelas tanpa menjadikannya fokus utama," kata Diederich kepada DW.
Pameran retrospektif Kusama di Museum Ludwig pun sukses dan mendapat sambutan besar dari publik. Pameran yang menelusuri lebih dari tujuh dekade perjalanan kariernya itu menghadirkan berbagai karya ikonik, mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi imersif yang mencerminkan perkembangan artistiknya.
Selain karya-karya yang telah dikenal luas, pameran ini juga menampilkan sejumlah instalasi berskala besar yang sebelumnya tidak dipamerkan di Basel. Di antaranya Aggregation: One Thousand Boats Show (1963), instalasi pertama Kusama, I'm Here but Nothing (2000/2026), ruang tamu yang diselimuti cahaya hitam dan ribuan titik berpendar, serta Flowers That Speak All about My Heart Given to the Sky, rangkaian bunga perunggu berwarna-warni berukuran monumental yang dipasang di teras atap Museum Ludwig.
Kehadiran karya-karya tersebut memberi kesempatan bagi pengunjung untuk melihat berbagai fase perkembangan Kusama, dari eksperimen awalnya pada 1960-an hingga karya-karya yang diciptakannya dalam beberapa dekade terakhir.
Bagi Kusama, yang lahir pada 22 Maret 1929, kehidupan di Jepang tak lama kemudian terasa semakin mengekang.