Televisi Al Masirah yang dikelola Houthi melaporkan bahwa serangan udara koalisi menghantam stasiun pusat Sabah milik Yemen Petroleum Company, sebuah depot bahan bakar di pinggiran Sanaa. Warga juga melaporkan mendengar ledakan di kota tersebut.
Dalam pernyataannya pada Selasa malam, koalisi mengatakan operasi itu bertujuan menetralkan kemampuan Houthi untuk mengancam Arab Saudi, Yaman, dan jalur perairan internasional.
Pihak Houthi sebelumnya memperingatkan akan membalas serangan tersebut.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengatakan setiap serangan Arab Saudi terhadap Sanaa akan dibalas dengan tindakan yang "keras dan menyakitkan" terhadap ibu kota Saudi, Riyadh.
Menurut laporan Reuters, Saree juga menyebut kompleks kantor pusat Aramco di Dhahran dan sebuah kilang minyak di Riyadh sebagai kemungkinan sasaran. Kelompok tersebut turut memperingatkan pekerja industri minyak di Arab Saudi agar menjauhi lokasi yang berpotensi menjadi target serangan.
Sementara itu, perusahaan minyak Yaman menyatakan fasilitas penyimpanannya kosong dan serangan Saudi tidak akan memengaruhi cadangan maupun pasokan minyak bagi penduduk. Meski demikian, saksi mata melaporkan antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Sanaa akibat kekhawatiran akan kelangkaan pasokan.
Kabinet Arab Saudi, yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman, sebelumnya memperingatkan Houthi bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi atas serangan berulang terhadap kerajaan tersebut.