NADIKABAR.COM — Serangan Israel menghantam lantai dasar sebuah gedung apartemen Al-Asala 1, di Gaza. Sebanyak 5 orang tewas, 2 di antaranya merupakan ibu anak pelayan gereja yang sering membantu pengungsi di Gaza.

Dilansir Anadolu dan Reuters, Minggu (4/10/2026), sedikitnya lima warga Palestina, termasuk empat wanita, dalam serangan itu. Di antara korban tewas merupakan seorang ibu, Maisa Abu Dawoud, dan putrinya, Mary Najjar. Korban perempuan lainnya, yaitu seorang akademisi Yasmin al-Boubou, dan ibu Yasmin, Halloum al-Boubou.

Korban bernama Maysa dikenal sebagai Umm Michel dan anaknya Mary dikenal sebagai Umm Fouad. Mereka adalah warga Kristen Palestina asal Kota Gaza.

Menurut Komite Tinggi Kepresidenan untuk Urusan Gereja Palestina, keduanya mengabdikan waktu mereka untuk membantu jemaat gereja dan para pengungsi yang berlindung di Gereja Keluarga Kudus (Holy Family Church).

Ketua Komite, Ramzi Khoury, menyebut kematian mereka sebagai "kehilangan yang menyakitkan" bagi keluarga, gereja, dan jemaatnya.

Sementara itu, Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius di Gaza turut berduka atas kematian para wanita tersebut. Tak hanya itu, Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, juga menyampaikan belasungkawa kepada kerabat mereka dan komunitas Kristen di Gaza.

Upacara pemakaman ibu dan anak tersebut dilangsungkan pada hari Sabtu di Gereja Saint Porphyrius di kawasan Kota Tua Gaza Pemakaman diiringi doa, nyanyian rohani, dan pembacaan ayat-ayat keagamaan.

Putra Mary, Fouad al-Najjar (14 tahun), mengatakan kepada Anadolu bahwa serangan itu menghantam gedung tersebut sekitar pukul 01.30 dini hari (22.30 GMT).

"Nenek dan ibu saya meninggal dunia. Semoga Tuhan mengasihi mereka," ujarnya.

Ia menyerukan diakhirinya perang Israel, seraya mengatakan bahwa orang-orang kehilangan orang-orang terkasih setiap harinya.

Korban tewas pada serangan di hari Sabtu juga mencakup Yasmin al-Boubou, seorang dosen di departemen multimedia pada College of Intermediate Studies di University of Palestine, Gaza.

Sebelumnya, ia memimpin Departemen Teknologi Multimedia di universitas tersebut. Laporan resmi universitas tahun 2019 mencatat posisinya tersebut, di mana ia mengawasi kegiatan akademik dan artistik bagi para mahasiswa.

Ketua Euro-Med Human Rights Monitor, Ramy Abdu, juga menyampaikan dukacita atas meninggalnya Yasmin, sementara akademisi Iyad al-Qarra menggambarkannya sebagai seorang cendekiawan terkemuka.

Ibunya, Halloum, tewas bersamanya dalam serangan yang sama. Namun tidak tersedia informasi terverifikasi mengenai kehidupan pribadi maupun profesional sang ibu.

Kematian Yasmin menambah daftar panjang akademisi dan peneliti yang tewas di seluruh wilayah Gaza selama perang berlangsung.

Militer Israel mengatakan pihaknya melancarkan serangan terhadap sebuah apartemen di Gaza dalam upaya untuk membunuh Ali al-Amoudi. Sumber-sumber Hamas menyebutkan bahwa al-Amoudi memimpin kantor politik Hamas di Gaza.

Belum dapat dipastikan apakah serangan tersebut merupakan serangan yang sama yang menewaskan kelima warga Palestina itu. Militer Israel menyatakan hasil serangan tersebut sedang ditinjau, sementara Hamas tidak segera memberikan komentar.

Serangan yang menewaskan kelima warga Palestina itu menghancurkan gedung apartemen dan memicu kebakaran. Seorang saksi mata mengatakan serangan itu membuat warga sekitar kaget dan berlarian.

"Kami sedang tidur dan tiba-tiba mendengar serangan bertubi-tubi serta ledakan keras. Anak-anak terbangun dengan kaget lalu berlarian sambil berteriak," ujar saksi mata Ahmed al-Dahdouh, kepada Reuters.

"Kami berlari keluar dan mendapati rumah tetangga kami telah terkena serangan; ada jenazah korban yang hancur-wanita, pria, dan anak-anak. Kami mulai mengevakuasi mereka; jasad-jasad itu berserakan di bawah reruntuhan," tambahnya.