Menurut interpretasi sementara Badan Geologi, magma encer yang keluar pada saat erupsi mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara, sehingga material erupsi membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat dalam bentuk dua gumuk seperti pulau.
"Tapi sekali lagi ini masih dugaan, yang perlu dikonfirmasi melalui pengecekan lapangan. Badan Geologi akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan," ucapnya.
Terkait kemunculan daratan baru itu, Badan Geologi mengimbau warga tetap tenang. Status Gunung Anak Krakatau saat ini waspada dengan rekomendasi wilayah bahaya pada radius 2 km dari pusat erupsi.
"Untuk keselamatan, masyarakat juga diimbau untuk tidak mendekat pada radius 1 km dari lokasi kedua gumuk pulau yang terlihat di dekat Gunung Anak Krakatau," tambahnya.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, memberikan analisis terkait hal itu. Namun, menurut Daryono, daratan tersebut bukan gunung api independen, melainkan sebuah endapan dari material vulkanik hasil erupsi.
"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut. Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air," kata Daryono, dalam akun X resminya, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung tersebut dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.