Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan ginjal mengeluarkan lebih banyak glukosa melalui urine. Proses tersebut turut meningkatkan pengeluaran cairan sehingga tubuh kehilangan lebih banyak air.
Akibatnya, seseorang dapat merasa haus berulang kali meskipun sudah minum air putih. Gejala lain yang dapat menyertai kondisi ini meliputi mudah lelah, penglihatan kabur, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Namun, rasa haus saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami diabetes. Pemeriksaan gula darah diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan kondisi ini.
5. Mulut kering akibat obat atau kondisi tertentu
Tidak semua rasa haus berasal dari kekurangan cairan. Terkadang, seseorang merasa ingin terus minum karena mulutnya kering.
Kondisi ini dikenal sebagai xerostomia, yaitu berkurangnya produksi air liur atau sensasi mulut kering. Penyebabnya dapat meliputi efek samping obat-obatan tertentu, kebiasaan bernapas melalui mulut, serta gangguan pada kelenjar air liur.
Beberapa obat, seperti antihistamin dan obat dengan efek antikolinergik, dapat menyebabkan mulut kering. Obat tertentu untuk mengatasi tekanan darah tinggi juga dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh.
Jika rasa haus disertai sensasi mulut lengket, kesulitan menelan, atau perubahan rasa makanan, penyebabnya mungkin berkaitan dengan mulut kering. Konsultasikan dengan tenaga medis apabila keluhan berlangsung terus-menerus, terutama jika muncul setelah mengonsumsi obat tertentu.
Selain diabetes melitus, terdapat kondisi yang lebih jarang ditemukan, yaitu diabetes insipidus. Gangguan ini juga dapat menyebabkan rasa haus berlebihan meskipun seseorang sudah minum air putih.
Diabetes insipidus berkaitan dengan gangguan hormon vasopresin atau respons ginjal terhadap hormon tersebut. Vasopresin berfungsi membantu ginjal mengatur jumlah air yang dikeluarkan melalui urine.
Jika mekanisme tersebut terganggu, tubuh dapat mengeluarkan urine dalam jumlah sangat banyak dan encer. Akibatnya, seseorang sering buang air kecil, termasuk pada malam hari, serta terus merasa haus untuk menggantikan cairan yang hilang.
Diabetes insipidus berbeda dari diabetes melitus dan tidak disebabkan oleh tingginya kadar gula darah. Meski demikian, keduanya dapat menimbulkan gejala berupa rasa haus berlebihan dan sering buang air kecil.
7. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Keseimbangan cairan tubuh melibatkan berbagai mekanisme yang mengatur kadar air dan elektrolit, seperti natrium dan kalium. Gangguan pada keseimbangan tersebut dapat memengaruhi rasa haus dan jumlah urine yang dikeluarkan.
Kondisi tertentu, termasuk gangguan fungsi ginjal, dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur cairan. Beberapa obat juga dapat meningkatkan pengeluaran urine dan memengaruhi keseimbangan cairan.
Namun, rasa haus berlebihan tidak selalu menandakan gangguan ginjal atau kekurangan elektrolit. Pemeriksaan darah dan urine dapat membantu dokter menentukan penyebabnya serta memilih penanganan yang tepat.