NADIKABAR.COM — Upacara HUT ke-81 TNI semula direncanakan di Monas, tetapi dipindahkan ke Cilangkap karena banyak prajurit dikerahkan ke lokasi bencana. Pada pagi 5 Oktober 2026 itu, Presiden Prabowo Subianto meresmikan 204 satuan baru TNI. Enam di antaranya adalah kodam baru di Kepulauan Riau, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, Papua Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.
Sebanyak enam mayor jenderal menerima tongkat komando sebagai pangdam pertama.
Dalam hitungan menit, enam wilayah memperoleh garis komando baru. Nama satuan ditetapkan, pejabat memegang tanggung jawab, dan struktur resmi mulai bekerja. Ada satu hal yang tidak otomatis ikut berpindah bersama tongkat itu: pengetahuan yang selama ini bermuara di markas lama.
Kodam-kodam tersebut tidak seluruhnya memulai dari ruang kosong. Pada tahap awal penataan 2025, TNI AD menyebut lima kodam baru dibentuk dengan meningkatkan status korem yang sudah ada. Kodim, koramil, dan babinsa tidak mendadak kehilangan medan yang selama ini mereka kenali. Hal yang berubah adalah hubungan organisasi di atasnya dan tempat informasi itu bermuara. Persoalannya adalah apakah pengetahuan yang mengalir melalui struktur lama tetap utuh ketika garis komando berubah.
Kepulauan Riau memberi contoh paling jelas. Korem 033/Wira Pratama di Tanjungpinang sebelumnya berada di bawah Kodam I/Bukit Barisan di Medan. Pada 10 Agustus 2025, Riau dan Kepulauan Riau masuk ke Kodam XIX/Tuanku Tambusai yang bermarkas di Pekanbaru. Sekitar 14 bulan kemudian, Kepulauan Riau memperoleh Kodam sendiri, Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah.
Laporan yang semula bermuara ke Medan beralih ke Pekanbaru, lalu kini masuk ke struktur kodam baru di Kepulauan Riau. Orang yang membaca, membandingkan, dan memberi konteks pada laporan itu pun berganti. Bagi provinsi perbatasan yang mencakup Batam dan Natuna serta berhadapan dengan jalur pelayaran internasional, perubahan itu bukan sekadar soal alamat markas.
Pengetahuan wilayah hidup pada beberapa lapisan. Di lapangan, babinsa yang telah beberapa musim bertugas dapat mengenali jalur yang masih bisa dilalui saat akses utama terputus, lahan yang cepat mengering, dan tokoh yang didengar masyarakat. Di markas, pengetahuan berbentuk lain: perbandingan antardaerah, pengalaman menghadapi kejadian sebelumnya, dan kemampuan melihat satu wilayah sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar.